PENYULUHAN P4GN DIKNAS PRABUMULIH

DIKNAS Prabumulih tanggal 10 Mei 2012 yang lalu meminta pihak BNNK Prabumulih untuk menyampaikan informasi tentang P4GN, kegiatan itu sendiri diadakan di SMU 6 Prabumulih, sementara dari pihak BNNK Prabumulih sendiri di wakili oleh Bapak Achmad Junaidi,S.Psi. sebagai narasumber, dari Staf Seksi Pemberdayaan Masyarakat yang menyampaikan pentingnya peran serta orangtua dan keluarga agar anak terhindar dari pengaruh buruk NARKOBA. kegiatan itu sendiri di buka pukul 09.00 WIB oleh WAKO Prabumulih yang di Wakili oleh Wakil Walikota Prabumulih Bapak Ir. Ridho Yahya,MM.

Ketergantungan Narkoba

Ada dua macam ketergantungan

  1. Ketergantungan psikis yaitu terjadinya suatu dorongan psikis dalam diri pelaku untuk dipenuhi baik secara periodik atau terus menerus, namun sebenarnya dorongan itu jika tidak dipenuhi tubuh menderita suatu kerusakkan atau perubahan (contoh perasaan seorang perokok/kopi jika tidak dipenuhi ia akan merasa pusing, mual walaupun tubuhnya tidak terjadi perubahan)
  2. Secara fisik adalah suatu keadaan dimana fisik atau tubuh seorang tidak dapat lagi melakukan fungsinya bilamana obatan-obatan tertentu tidak diberikan kepadanya.

Ketergantungan Narkoba, membuat sengsara

 

 

 

 

 

 

 

Resiko Penggunaan Narkoba

  • Resiko Medis
  1. •Meracuni sistem syaraf pusat (otak),
  2. •Penurunan kualitas berfikir dan daya ingat
  3. •Merusak berbagai organ vital seperti jantung, paru-paru, ginjal
  4. •Bisa terjangkit penyakit hepatitis, HIV, AID
  5. •Kalau over dosis akan berakibat mati.

Resiko medis ketergantungan narkoba

 

 

 

 

 

 

  • Resiko Psikososial
  1. •Mengubah kamu menjadi pemurung, pemarah, pencemas depresi, mengalami gangguan jiwa
  2. •Menimbulkan sikap masa bodoh, tidak peduli dengan penampilan, sekolah dan rumah, menjadi pemalas, serta tidak ada sopan santun
  3. •Menjadi pencuri, menjual barang milik keluarga untuk membeli narkoba
  4. •Tidak ragu untuk mengadakan hubungan seksual secara bebas, tidak peduli dengan norma masyarakat, hukum dan agama
  5. •Melakukan tindak kriminal seperti mencopet, memperkosa.

Resiko Psikososial pengguna narkoba

 

Pengertian Narkoba

Narkoba adalah akronim dari kata Narkotika, Psikotropika dan zat adiktif lainnya.

Pemahaman lebih lanjut  tentang Narkoba terdapat dalam Undang-undang No. 35 tahun 2010 tentang Narkotika, yang menyebutkan bahwa :

  • Narkotika  adalah zat  atau obat  yang berasal dari  tanaman  atau bukan  tanaman, baik sintetis maupun  semisintetis, yang  dapat  menyebabkan   penurunan  atau  perubahan  kesadaran, hilangnya  rasa, mengurangi  sampai  menghilangkan rasa  nyeri, dan dapat  menimbulkan  ketergantungan, yang  dibedakan  ke  dalam  golongan-golongan sebagaimana  terlampir  dalam undang undang ini (Pasal 1)
  • Prekursor  Narkotika  adalah  zat  atau  bahan  pemula  atau  bahan kimia  yang  dapat  digunakan  dalam dalam pembuatan  narkotika  yang  dibedakan  dalam tabel  sebagaimana   terlampir   dalam undang-undang ini.
  • Psikotropika adalah zat atau  obat  baik  alamiah  maupun sintetis bukan narkotika, yang  berkhasiat  psikoaktif  melalui  pengaruh  selektif  pada susunan  syaraf  pusat  yang  menyebabkan  perubahan khas  pada  aktifitas  mental  dan perilaku.

    Daun Ganja

Jenis dan golongan narkotika

kRISTAL SABU

KRISTAL SABU

•NARKOTIKA GOLONGAN I  ADALAH NARKOTIKA YANG  HANYA  DAPAT DIGUNAKAN UNTUK TUJUAN PENGEMBANGAN  ILMU PENGETAHUAN DAN TIDAK  DIGUNAKAN   DALAM TERAPI SERTA  MEMPUNYAI  POTENSI  SANGAT TINGGI  MENGAKIBATKAN KETERGANTUNGAN (GANJA, TANAMAN KOKA, DAUN KOKA, OPIUM, KOKAIN MENTAH, KOKAINA, HEROINA, EKSTASI (MDMA), AMFETAMIN, SHABU (METAMFETAMINA)
•NARKOTIKA GOLONGAN II NARKOTIKA BERKHASIAT UNTUK  PENGOBATAN DIGUNAKAN SEBAGAI  PILIHAN TERAKHIR  DAN DAPAT DIGUNAKAN  DALAM TERAPI DAN/ATAU UNTUK TUJUAN  PENGEMBANGAN ILMU  PENGETAHUAN SERTA  MEMPUNYAI  POTENSI  TINGGI  MENGAKIBATKAN  KETERGANTUNGAN  (ALFASETILMETADOL, BENZILMORFINA, ASITILMETADOL, MORFINA)
•NARKOTIKA GOLONGAN II NARKOTIKA BERKHASIAT UNTUK  PENGOBATAN DIGUNAKAN SEBAGAI  PILIHAN TERAKHIR  DAN BANYAK DIGUNAKAN  DALAM TERAPI DAN/ATAU UNTUK TUJUAN  PENGEMBANGAN ILMU  PENGETAHUAN SERTA  MEMPUNYAI  POTENSI  RINGAN  MENGAKIBATKAN  KETERGANTUNGAN (ASETILDIHIDROKODEINA, DIHIDROKODEINA, ETILMORFINA, KODEINA, NIKOKODINA)

Sosialisasi UU Tindak Pidana Khusus

Achmad Junaidi, S.Psi

Kegiatan sosialisasi Undang-undang tindak pidana khusus kali ini bertempat di SMA Negeri 1 Prabumulih. Kegiatan tersebut dilakukan bersama-sama lintas sektor dengan beberapa instansi Pemerintah yang berada di Kota Prabumulih. Ada 4 Instansi yang berkompeten  dalam hal ini, yaitu Badan Narkotika Nasional, Kepolisian, Kejaksaan dan Departemen Agama.

Dalam  kesempatan ini Badan Narkotika Nasional yang diwakili oleh BNN Kota Prabumulih menghadirkan Achmad Junaidi, S.Psi dari bagian Pemberdayaan yang menyampaikan tentang pokok-pokok peraturan Perundang-undangan Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 09.00 wib tersebut berakhir pada pukul 11.00 wib, dihadiri lebih kurang 80 orang siswa siswi SMA Negeri 1 Prabumulih. 

Diseminasi Informasi P4GN di Sekolah

Diseminasi Informasi P4GN di Sekolah

Peningkatan jumlah pengguna Narkotika di Kota Prabumulih dari tahun ke tahun sudah sangat mengkhawatirkan, oleh karena itu sudah menjadi tanggung jawab kita bersama di dalam mengawasi lingkungan kita terhadap adanya bahaya narkoba. Deteksi dini terhadap ancaman narkoba harus menjadi dasar utama dalam mengetahui bahaya narkoba, tetapi sebelumnya remaja harus tahu dulu apa itu narkoba, jenis-jenisnya serta bahayanya bagi tubuh baik fisik maupun psikis.

Kurangnya Informasi dan kepedulian masyarakat dalam memerangi narkoba dilingkungannya dapat memperparah kondisi rusaknya generasi Muda dan khususnya generasi penerus bangsa ini. Padahal masalah Narkotika adalah masalah utama di Indonesia, selain Terorisme dan Korupsi yang harus segera di tanggulangi bersama.

Dalam kaitan hal tersebut, Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Prabumulih telah mengadakan diseminasi Informasi Pencegahan pemberantasan dan penyalahgunaan serta peredaran Gelap Narkotika (P4GN) di sekolah-sekolah menengah atas dan Sekolah Menengah Kejuruan di wilayah Kota Prabumulih. Kegiatan dimaksud dilaksanakan dengan pola ceramah, penyuluhan dengan tanya jawab, penyebaran poster dan brosur P4GN serta penayangan media film dokumenter P4GN. Kegiatan juga sedang dan akan dilakukan secara berkala di beberapa sekolah menengah atas dan sekolah menengah kejuruan di wilayah Kota Prabumulih, untuk tahun ini direncanakan hingga trimester ke-4 2012.

Pengaruh Narkoba terhadap Remaja

Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan (Undang-Undang No. 22 tahun 1997). Yang termasuk jenis Narkotika adalah :

• Tanaman papaver, opium mentah, opium masak (candu, jicing, jicingko), opium obat, morfina, kokaina, ekgonina, tanaman ganja, dan damar ganja.

• Garam-garam dan turunan-turunan dari morfina dan kokaina, serta campuran-campuran dan sediaan-sediaan yang mengandung bahan tersebut di atas.

Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan pada aktivitas mental dan perilaku (Undang-Undang No. 5/1997). Zat yang termasuk psikotropika antara lain:

• Sedatin (Pil BK), Rohypnol, Magadon, Valium, Mandarax, Amfetamine, Fensiklidin, Metakualon, Metifenidat, Fenobarbital, Flunitrazepam, Ekstasi, Shabu-shabu, LSD (Lycergic Alis Diethylamide), dsb.

gambar.Daun Ganja

Jenis Narkoba menurut efeknya

Dari efeknya, narkoba bisa dibedakan menjadi tiga:

1. Depresan, yaitu menekan sistem sistem syaraf pusat dan mengurangi aktifitas fungsional tubuh sehingga pemakai merasa tenang, bahkan bisa membuat pemakai tidur dan tak sadarkan diri. Bila kelebihan dosis bisa mengakibatkan kematian. Jenis narkoba depresan antara lain opioda, dan berbagai turunannya seperti morphin dan heroin. Contoh yang populer sekarang adalah Putaw.

2. Stimulan, merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan serta kesadaran. Jenis stimulan: Kafein, Kokain, Amphetamin. Contoh yang sekarang sering dipakai adalah Shabu-shabu dan Ekstasi.

3. Halusinogen, efek utamanya adalah mengubah daya persepsi atau mengakibatkan halusinasi. Halusinogen kebanyakan berasal dari tanaman seperti mescaline dari kaktus dan psilocybin dari jamur-jamuran. Selain itu ada jugayang diramu di laboratorium seperti LSD. Yang paling banyak dipakai adalah marijuana atau ganja.

Penyalahgunaan Narkoba

Kebanyakan zat dalam narkoba sebenarnya digunakan untuk pengobatan dan penefitian. Tetapi karena berbagai alasan – mulai dari keinginan untuk coba-coba, ikut trend/gaya, lambang status sosial, ingin melupakan persoalan, dll. – maka narkoba kemudian disalahgunakan. Penggunaan terus menerus dan berianjut akan menyebabkan ketergantungan atau dependensi, disebut juga kecanduan.

Tingkatan penyalahgunaan biasanya sebagai berikut:

  1. coba-coba
  2. senang-senang
  3. menggunakan pada saat atau keadaan tertentu
  4. penyalahgunaan
  5. ketergantungan

Dampak penyalahgunaan Narkoba

Bila narkoba digunakan secara terus menerus atau melebihi takaran yang telah ditentukan akan mengakibatkan ketergantungan. Kecanduan inilah yang akan mengakibatkan gangguan fisik dan psikologis, karena terjadinya kerusakan pada sistem syaraf pusat (SSP) dan organ-organ tubuh seperti jantung, paru-paru, hati dan ginjal.

Dampak penyalahgunaan narkoba pada seseorang sangat tergantung pada jenis narkoba yang dipakai, kepribadian pemakai dan situasi atau kondisi pemakai. Secara umum, dampak kecanduan narkoba dapat terlihat pada fisik, psikis maupun sosial seseorang.

Dampak Fisik:

1. Gangguan pada system syaraf (neurologis) seperti: kejang-kejang, halusinasi, gangguan kesadaran, kerusakan syaraf tepi

2. Gangguan pada jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) seperti: infeksi akut otot jantung, gangguan peredaran darah

3. Gangguan pada kulit (dermatologis) seperti: penanahan (abses), alergi, eksim

4. Gangguan pada paru-paru (pulmoner) seperti: penekanan fungsi pernapasan, kesukaran bernafas, pengerasan jaringan paru-paru

5. Sering sakit kepala, mual-mual dan muntah, murus-murus, suhu tubuh meningkat, pengecilan hati dan sulit tidur

6. Dampak terhadap kesehatan reproduksi adalah gangguan padaendokrin, seperti: penurunan fungsi hormon reproduksi (estrogen, progesteron, testosteron), serta gangguan fungsi seksual

7. Dampak terhadap kesehatan reproduksi pada remaja perempuan antara lain perubahan periode menstruasi, ketidakteraturan menstruasi, dan amenorhoe (tidak haid)

8. Bagi pengguna narkoba melalui jarum suntik, khususnya pemakaian jarum suntik secara bergantian, risikonya adalah tertular penyakit seperti hepatitis B, C, dan HIV yang hingga saat ini belum ada obatnya

9. Penyalahgunaan narkoba bisa berakibat fatal ketika terjadi Over Dosis yaitu konsumsi narkoba melebihi kemampuan tubuh untuk menerimanya. Over dosis bisa menyebabkan kematian

 Dampak Psikis:

1. Lamban kerja, ceroboh kerja, sering tegang dan gelisah

2. Hilang kepercayaan diri, apatis, pengkhayal, penuh curiga

3. Agitatif, menjadi ganas dan tingkah laku yang brutal

4. Sulit berkonsentrasi, perasaan kesal dan tertekan

5. Cenderung menyakiti diri, perasaan tidak aman, bahkan bunuh diri

Dampak Sosial:

1. Gangguan mental, anti-sosial dan asusila, dikucilkan oleh lingkungan

2. Merepotkan dan menjadi beban keluarga

3. Pendidikan menjadi terganggu, masa depan suram

Sekapur Sirih

Penggunaan obat terlarang sejenis narkotika yang disalahgunakan di Indonesia barangkali sudah cukup lama. Akan tetapi tingkat bahaya yang dirasakan sudah benar-benar mengancam kerusakan generasi telah dirasakan sejak awal Pelita Pertama. Bahkan sejak saat itu Kepala Negara telah mewaspadai fenomena tersebut. Sebagai tindak lanjutnya Presiden RI ketika itu mengeluarkan amanat yang kemudian disusul oleh keluarnya Instruksi Presiden (Inpres) No. 6 tahun 1971. Dalam pesannya Kepala Negara menyerukan kepada seluruh warga masyarakat agar bahaya penyalahgunaan narkotika dan semacamnya segera ditanggulangi secara serius. Lebih lanjut di dalam Inpres yang dikeluarkan menyusul amanat tadi ditegaskan antara lain “bahwa masalah narkotika merupakan salah satu masalah penting di Indonesia yang perlu mendapat penanganan secara sungguh-sungguh dan segera. Dalam tahun-tahun berikutnya, wabah penyalahgunaan narkotika justeru semakin menjadi-jadi terutama di kalangan remaja kita ketika itu. Akibatnya sebutan nama narkotika pun menjadi sangat populer di masyarakat.
Kendati pun barangkali jenis dan wujud dari zat yang bernama narkotika itu sendiri belum semuanya mengetahui. Namun demikian secara umum sesungguhnya masyarakat telah mengetahui gambarannya bahwa narkotika itu adalah sejenis obat yang dilarang digunakan sembarangan karena akibatnya sangat membahayakan fisk maupun mental pemakainya.

Sejak dikeluarkannya Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2007 tentang Badan Narkotika Nasional, Badan Narkotika Propinsi (BNP) dan Badan Narkotika Kabupaten/Kota (BNK), yang memiliki kewenangan operasional melalui kewenangan Anggota BNN terkait dalam satuan tugas, yang mana BNN-BNP-BNKab/Kota merupakan mitra kerja pada tingkat nasional, propinsi dan kabupaten/kota yang masing-masing bertanggung jawab kepada Presiden, Gubernur dan Bupati/Walikota, dan yang masing-masing (BNP dan BN Kab/Kota) tidak mempunyai hubungan struktural-vertikal dengan BNN. Maka Upaya Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika di Indonesia kian terarah.

Merespon perkembangan permasalahan narkoba yang terus meningkat dan makin serius, maka Ketetapan MPR-RI Nomor VI/MPR/2002 melalui Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR-RI) Tahun 2002 telah merekomendasikan kepada DPR-RI dan Presiden RI untuk melakukan perubahan atas Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Oleh karena itu, Pemerintah dan DPR-RI mengesahkan dan mengundangkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, sebagai perubahan atas UU Nomor 22 Tahun 1997. Berdasarkan UU Nomor 35 Tahun 2009 tersebut, BNN diberikan kewenangan penyelidikan dan penyidikan tindak pidana narkotika dan prekursor narkotika.

Badan Narkotika Nasional Kota Prabumulih merupakan instansi vertikal telah terbentuk sejak tahun 2011 lalu dan terus berupaya untuk melaksanakan program pemerintah di bidang P4GN (Pencegahan  Penyalahgunaan dan Pemberantasan Peredaran Gelap Narkotika) khususnya di wilayah Kota Prabumulih. Oleh karena itu dukungan dan partisipasi dari berbagai tingkat elemen masyarakat dan pemerintah diharapkan dapat menekan seminimal mungkin bahaya narkotika dan zat aditif lainnya di Kota Prabumulih. Selanjutnya mari kita bangun kota “Seinggok Sepemunyian seiring sejalan” menjadi kota yang “PRIMA” dan bebas Narkoba.